Mencuri Itu Baik;Review Buku Steal Like An Artist

by - February 10, 2015

Bagi seorang seniman, orisinalitas adalah harga mati. Ia adalah sebuah nyawa dalam karya seni. Bahkan demi sebuah orisinalitas banyak seniman yang kemudian mengasingkan diri dalam mencari inspirasi keorisinalitasan untuk karyanya. Pada akhirnya, banyak orang menyimpulkan bahwa tidak semua orang bisa menjadi seniman, seniman itu butuh bakat, dan pada akhirnya banyak yang berpikiran bahwa tidak semua orang bisa pberpikir kreatif. Hanya orang orang dengan bakat tertentu saja yang memiliki kreatifitas. Austin Kleon mendobrak semua pemikiran itu dalam bukunya yang berjudul Steal Like An Artist. Dalam bahasa Indonesia artinya ‘ mencuri seperti seorang seniman’.

[caption id="attachment_1363" align="aligncenter" width="300"]cover yang menarik perhatian cover yang menarik perhatian[/caption]
Austin Kleon mengawali bukunya dengan sebuah kutipan dari seniman terkenal Pablo Picasso, ‘Semua karya senin adalah hasil curian.’ Hal ini tentunya lebih ditujukan kepada pembaca umum yang slama ini berpikiran bahwa untuk menjadi kreatif diperlukan suatu bakat. Kleon ingin membuka pikiran pembaca tepat di halaman pertamanya, sehingga bab selanjutnya akan lebih mudah dicerna. Bab pertama dinamai persis seperti judul bukunya. Bab pertama ini mengingatkan saya akan konsep ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Untuk menjadi kreatif kita hanya perlu untuk menjadi pencuri yang ‘baik’.
[caption id="attachment_1361" align="aligncenter" width="267"]mencuri yang baik mencuri yang baik[/caption]
9 bab lainnya merupakan panduan langkah-langkah untuk menjadi kreatif dan menyelesaikan ‘suatu karya kreatif’ samapai selesai. Jangan bayangkan buku ini akan seperti buku serius seri pengembangan diri pada umumnya. Buku ini ditata dengan layout yang tidak membosankan, ukuran dan jenis huruf yang tidak membuat mata mudah lelah serta ilustrasi yang memudahkan pembaca mencerna maksud sang penulis.



Buku ini tampaknya secara implisit dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama (bab 1-5) khusus untuk mengeksplorasi ide dan hal hal yang perlu dilakukan untuk menjadi kreatif. Bagian kedua (bab 6-10) membahas bagaimana caranya bisa bertahan menyelesaikan sutau karya kreatif. Menciptakan ide saja tidak cukup. Kita harus bisa mempertahankannya dan merealisasikannya menjadi karya nyata. Dan itu tidak mudah karena akan ada banyak hal di tengah jalan yang membuat kita berhenti.
[caption id="attachment_1362" align="aligncenter" width="300"]perjalanan proses kreatif perjalanan proses kreatif[/caption]

Ada banyak saran menarik dari penulis untuk memulai berpikir kreatif, mulai dari menulis buku, menggunakan tangan daripada mengandalkan mesin pencari digital, sampai dengan kesediaan untuk tampak bodoh. Sang penulis benar-benar menulisnya out of the box. Karya ini cocok untuk siapa saja yang mulai jenuh dengan rutinitas dan kehilangan kreativitas. Dalam 145 halaman, Austin Kleon berhasil menjelaskan dengan gamblang bagaimana itu menjadi kreatif dan menuangkan kreatifitas dalam sebuah karya yang ‘selesai’. Akurat , jelas dan tanpa basa basi. Diselingi dengan hasil riset dan fakta tertentu membuat buku ini semakin kayak arena bukan hanya merupakan opini sang penulis semata.

Hanya ada satu hal yang masih mengganjal di pikiran saya, yakni contoh dan terjemahan. Lebih nyaman rasnaya jika membaca buku ini dalam bahsa Inggris, karena jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi lebih kaku. Kemudian soal contoh, khususnya bab pertama, agak sedikit mengambang mengenai bagaimana sebuah ide didapatkan karena tidak ada contoh yang nyata. Padahal menurut saya, bab pertama buku ini adalah inti dari keseluruhan buku. Atau mungkin penulis memang sengaja ingin membiarkan para pembaca bebas berkreasi tanpa harus disekat dengan sebuah contoh.
Secara keseluruhan buku ini sangat menarik untuk dibaca oleh siapa saja, tidak terbatas pada para pekerja seni. Bahasa yang universal, tata buku yang menarik, dan bobot yang bagus memang membuatkan pantas menjadi NY Times Bestseller.

You May Also Like

2 comments