Mengurai Sampah Plastik Rumah Tangga (Perkenalan)

Saya bukan ahli ataupun pakar. Jadi yang saya tulis di bawah ini sepenuhnya hasil baca sana sini termasuk dari beberapa akun media sosial pegiat rumah minim sampah lalu mencoba mempraktekkannya di rumah sendiri.


Baiklah, tulisan ini adalah tulisan perkenalan tentang bagaimana mengurai sampah plastik rumah tangga. Terlebih dahulu kenali sumber dan berbagai macam jenis plastik. Pada era modern ini, plastik tampaknya menjadi kebutuhan pokok dalam hal kemas mengemas. Harganya yang terjangkau, praktis dan anti ribet membuatnya menjadi primadona. Tidak heran jika sumber sampah plastik dalam rumah tangga sangat dekat dengan kebutuhan harian kita, misal mau makan perlu masak, masak pakai sayur, ke pasar beli sayur dapat kantong plastik, belum lagi kalau mendadak pengen nyemil ke ind*mar*t. Lalu setiap hari kan kita mandi, mandi perlu sabun, sabun pakai kemasan plastik, nyuci baju pakai deterjen bungkus plastik. Hmmm, jadi itulah sebab mengapa dalam satu rumah tangga bisa banyak sekali menghasilkan sampah plastik.



jenis karakter plastik


Cara Transfer Uang Ke Luar Negeri Dengan Biaya Minimum


Sudah laaamaa sekali saya ingin menuliskan topik terkait cara transfer uang ke luar negeri. Di era digital dan borderless sekarang ini, lokasi geografis bukan lagi masalah untuk melakukan transaksi keuangan antarnegara. Meskipun demikian, nampaknya belum banyak yang membedah secara detil mengenai cara transfer uang ke luar negeri dari Indonesia. Padahal mengetahui secara detil mengenai suatu layanan transfer uang ke luar negeri sangat penting untuk menjamin keamanan transaksi sekaligus menghindari biaya-biaya siluman yang tiba-tiba muncul saat proses pengiriman uang. 

Nah, berikut ini akan coba saya jabarkan perbandingan layanan transfer uang ke luar negeri yang tersedia di Indonesia serta simulasi sederhana untuk perbandingan total biaya dan estimasi waktu sampainya uang. Semoga bermanfaat!


Rumah Minim Sampah Plastik (How To )


Sesuai janji saya pada tulisan sebelumnya di sini , pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi pengalaman mengenai bagaimana cara mengelola sampah plastik dalam rumah tangga. Dalam mengelola sampah plastik saya berpedoman dengan menciptakan rumah minim sampah. Sebelum benar-benar mengaplikasikan rumah minim sampah, terlebih dahulu saya berdiskusi dengan suami tentang niatan saya mencoba mengelola sampah plastik dengan menciptakan rumah minim sampah. Komunikasi dengan anggota keluarga ini sangat penting, agar semua orang memiliki frekuensi dan pandangan yang sama terkait sampah ruman tangga. Sehingga ke depannya, saya tidak akan bekerja sendiri. Kalau saya sendiri yang melakukannya, aduh membayangkannya saja sudah pusing! Nah, biar nggak tambah stress karena mengelola sampah plastik, sebaiknya komunikasikan terlebih dahulu dengan seluruh anggota keluarga, bila perlu bikin presentasi agar mudah dimengerti. Jika memang anggota keluarga lainnya belum siap, kita bisa ajukan masa percobaan untuk melihat keuntungan yang bisa didapat dari rumah minim sampah secara nyata.


Sebisa Mungkin, Tolak dan Kurangi

Sesuai dengan konsep 3R,4R,dan atau 5R, maka kunci dalam mengelola sampah plastik rumah tangga adalah WAJIB hukumnya bagi kita untuk sebisa mungkin MENOLAK dan MENGURANGI penggunaan plastik. Mulailah dari hal-hal kecil yang sering kita lakukan dan banyak melibatkan plastik. Misalkan, sebagai yang suka belanja ke pasar, maka saya selalu membawa kantong belanjaan. Sembari jalan, kita juga akan menyadari bahwa membawa satu kantong plastik saja tidak cukup. Misalkan saat membeli cabe atau ikan, ternyata penjual memasukkan ke dalam kantong plastik kecil. Lalu akhirnya terpikir untuk membawa kantong-kantong yang lebih kecil, maupun kertas bekas dan juga kontainer plastik untuk wadah belanjaan protein.

Mengenal Lebih Dekat Kebaikan Masyarakat Inggris

Saya tidak heran ketika mendengar berita bahwa Inggris menggelontorkan bantuan miliaran rupiah untuk penanganan gempa dan tsunami di Palu. Bahkan bantuan tersebut tidak hanya berasal dari pemerintah Inggris saja tapi juga sumbangan masyarakat Inggris hingga Ratu Elizabeth II secara pribadi.


Sebagai bagian dari warga negara Indonesia, tentunya saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan yang tak terhingga dari Inggris Raya untuk membantu saudara-saudara di Palu. Jarak puluhan ribu kilometer tidak membuat rasa kemanusiaan menjadi terkikis. Alangkah miris jika kita yang berada sangat dekat sama sekali tidak tergerak untuk membantu.


Nah, lalu kenapa saya tidak heran jika Inggris mengirimkan bantuan dengan angka yang fantastis? Padahal secara geografis, jarak Indonesia Inggris bisa dibilang sangatlah jauh.


united kingdom marching band 



Selama saya di Inggris saya melihat langsung bagaimana masyarakat Inggris sangat terbuka, sopan dan menghargai siapa pun tanpa memandang latar belakang dan bahkan kostum. Alhamdulillah saya belum pernah mengalami diskriminasi sebagai minoritas selama di sana.


Pengalaman Beasiswa Chevening (4); Menjadi Alumni Dan Post-Study Life

Setelah hampir absen selama empat minggu akhirnya saya kembali lagi untuk menutup seri Pengalaman Beasiswa Chevening. Sebagai pamungkas, saya ingin bercerita mengenai bagaimana rasanya menjadi alumni Chevening dan pilihan karir saya saat ini.


University of birmingham
Berfoto dengan disertasi tercinta
Alhamdulillah saya lulus dari studi master saya di University of Birmingham dengan merit. Merit adalah sebuah gelar kelulusan di bawah distinction yang merupakan gelar kelulusan tertinggi di Inggris. Alhamdulillah setelah lulus saya juga menikah. "Lho kok menikah? Tidak takut karirnya akan terhambat?" Topik ini akan saya bahas pada lain waktu ya.

Pengalaman Beasiswa Chevening (3); Menjadi Chevening Scholars diUniversity of Birmingham

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga pada tulisan ketiga tentang Chevening. Nah, kali ini saya akan sedikit membagikan pengalaman menjadi Chevening Scholars di University of Birmingham. Saya menganggap tulisan ini sebagai #throwback sekaligus melepas kerinduan saya akan Inggris. Diambil yang baik-baik saja ya.


Screenshot 2018-08-26 11.10.43
Email dari Program Officer

Sebelum berangkat ke Inggris, setiap Chevening Scholars telah memiliki Program Officer (PO) yang akan memandu segala macam teknis persiapan keberangkatan. Keberadaan PO menjadi semacam perwakilan Home Office UK bagi tiap scholars. PO memiliki peran yang besar untuk memastikan para scholars tidak 'terlantar' dan kesusahan ketika tiba di Inggris.


unnamed

Sebagai Chevening Scholars proses menuju keberangkatan bisa dibilang sangat lancar. Saya bahkan tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun untuk segala macam urusan teknis keberangkatan. Mulai dari visa hingga tiket pesawat. Semuanya gratis. Saya juga sudah dibekali dengan cash card yang berfungsi sebagai pengganti kartu debit dan telah berisi sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhan kita saat kedatangan di Inggris.

Singkat cerita, mendaratlah saya di Birmingham Airport. Ada rasa haru ketika mengantri untuk pengecekan imigrasi. Akhirnya, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di benua biru, Eropa. Alhamdulillah.

My Dreamy Wedding Ceremony On A Budget (Bahasa)

Mohon maaf bila judulnya seperti menjebak. Tulisan ini menggunakan judul Bahasa Inggris namun dengan isi Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang digunakan pun cenderung tidak formal dan campur aduk dengan Bahasa Planet semata-mata agar terasa lebih ringan dan santai saat dibaca.

Tapi tenang saja, isinya bakalan sesuai dengan judul kok! Sebelumnya, coba angkat tangan siapa yang sedang merencanakan hari pernikahan bersama sang significant others (SO)-nya? Atau malah masi mencari-cari dimanakah sang SO berada? Di kondisi manapun kalian, tulisan ini tidak akan ada pengaruhnya untuk kalian. Lha terus ngapain nulis? Haha. Tulisan ini saya buat hanya sekedar untuk berbagi pengalaman saja. Tips dan trik yang saya beberkan nantinya mungkin tidak akan bisa berlaku untuk semua orang. Termasuk mungkin kamu, iya kamu. Tapi lagi-lagi, tidak ada salahnya untuk berbagi pengalaman kan?

green plant on clear glass vase

Pengalaman Beasiswa Chevening (2); Seputar Aplikasi Dan Proses Seleksi

UPDATE: 5 Desember 2019
Dapatkan mentoring gratis beasiswa Chevening dari para alumninya. Cek caranya di akhir tulisan ya

Awalnya saya tidak ingin menulis mengenai aplikasi dan proses seleksi Chevening karena sudah cukup banyak teman-teman seangkatan saya yang menulis mengenai hal tersebut. Namun saya berpikir, 'hmm.. tapi tidak ada salahnya kan berbagi pengalaman'. Karena setiap orang pasti memiliki kesan dan cara pandang yang berbeda terhadap suatu kejadian. Maka saya pun coba untuk menuliskannya.

Jika kamu sudah mantap untuk mengajukan aplikasi beasiswa Chevening maka tulisan ini bisa kamu baca sampai tuntas, namun jika masih ragu-ragu, kamu boleh tengok kembali tulisan pertama saya tentang Chevening di sini.

Teknis pendaftaran dan jadwal seleksi beasiswa Chevening dapat kamu baca secara lengkap dan detail di laman resmi Chevening berikut ini. Saya tidak akan membahas teknis tersebut namun saya akan sedikit bercerita mengenai proses seleksi yang saya jalani ketika itu.

Pengalaman Beasiswa Chevening (1); Darimana Harus Memulai?

Akhirnya, niat saya untuk menuliskan pengalaman beasiswa Chevening terealisasikan pagi ini. Sudah sejak lama ingin menuliskan mengenai detail aplikasi beasiswa Chevening namun selalu tertunda karena tekad dan niat yang kurang bulat. Niatan saya ini seolah diingatkan kembali oleh laman media sosial Kedutaan Besar Inggris di Indonesia (UK Embasssy) yang memuat pengumuman pembukaan aplikasi beasiswa Chevening pada 6 Agustus 2018 mendatang.

Rencananya, saya akan mencoba menuliskan pengalaman beasiswa Chevening dalam beberapa tulisan. Nah, tulisan yang pertama ini adalah mengenai hal-hal apa saja yang harus dicermati sebelum memulai proses pengajuan aplikasi beasiswa Chevening. Salah satunya adalah niat. Mengapa? Lalu bagaimana?