q

Saturday, 27 October 2018

Mengenal Lebih Dekat Kebaikan Masyarakat Inggris

Saya tidak heran ketika mendengar berita bahwa Inggris menggelontorkan bantuan miliaran rupiah untuk penanganan gempa dan tsunami di Palu. Bahkan bantuan tersebut tidak hanya berasal dari pemerintah Inggris saja tapi juga sumbangan masyarakat Inggris hingga Ratu Elizabeth II secara pribadi.


Sebagai bagian dari warga negara Indonesia, tentunya saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan yang tak terhingga dari Inggris Raya untuk membantu saudara-saudara di Palu. Jarak puluhan ribu kilometer tidak membuat rasa kemanusiaan menjadi terkikis. Alangkah miris jika kita yang berada sangat dekat sama sekali tidak tergerak untuk membantu.



Nah, lalu kenapa saya tidak heran jika Inggris mengirimkan bantuan dengan angka yang fantastis? Padahal secara geografis, jarak Indonesia Inggris bisa dibilang sangatlah jauh.


united kingdom marching band 


Selama saya di Inggris saya melihat langsung bagaimana masyarakat Inggris sangat terbuka, sopan dan menghargai siapa pun tanpa memandang latar belakang dan bahkan kostum. Alhamdulillah saya belum pernah mengalami diskriminasi sebagai minoritas selama di sana.


Thursday, 11 October 2018

My #35mmexperience

Taking pictures with an analogue camera makes you realize your surroundings. Though, you need to get used to it. Because at first, you will sporadically press your shutter as you did it with the digital one. Later on, you will know that things go differently with an analogue. I am not a pro. I am just a fan. And I love being distracted from this digital world.






Tuesday, 9 October 2018

Pengalaman Beasiswa Chevening (4); Menjadi Alumni Dan Post-Study Life

Setelah hampir absen selama empat minggu akhirnya saya kembali lagi untuk menutup seri Pengalaman Beasiswa Chevening. Sebagai pamungkas, saya ingin bercerita mengenai bagaimana rasanya menjadi alumni Chevening dan pilihan karir saya saat ini.


Berfoto dengan disertasi tercinta
Alhamdulillah saya lulus dari studi master saya di University of Birmingham dengan merit. Merit adalah sebuah gelar kelulusan di bawah distinction yang merupakan gelar kelulusan tertinggi di Inggris. Alhamdulillah setelah lulus saya juga menikah. "Lho kok menikah? Tidak takut karirnya akan terhambat?" Topik ini akan saya bahas pada lain waktu ya.

Menjadi alumni Chevening tentunya ada rasa bangga namun ada juga sedikit tekanan mengingat alumni Chevening sudah banyak yang terkenal dan menduduki posisi penting di negeri ini. Sebut saja Pak Tito Karnavian, Dr. Rizal Sukma, hingga A.Fuadi dan Riri Riza. Atau yang seangkatan dengan saya ada Alanda Kariza dan Marissa Anita.


pengalaman beasiswa chevening
Welcome Home Event
Lalu bagaimana dengan saya? Pekerjaan apa yang sedang saya geluti sekarang?

Dari sejak kuliah sarjana saya selalu suka dengan riset. Mulai dari mencari data, obsrvasi, analisis, menggali data lagi hingga menuliskannya dalam sebuah laporan. Oleh karena itu, selesai studi master saya memutuskan untuk berkarir di bidang yang berkaitan dengan riset. Singkat cerita, saat ini saya menjadi Asisten Riset untuk Mercator Research Institute for Global Commons and Climate Change, Jerman. Saya melakukan pekerjaan secara jarak jauh. Kebetulan salah satu riset mereka ada di Indonesia dan berkaitan dengan industri kelapa sawit.

Di samping itu, saya juga membekali diri saya dengan ilmu menjadi seorang content creator. Hal ini saya dapatkan dengan bergabung di TripZilla, sebuah situs tentang travel advisory di bawah Travelogy.com Pte Ltd Singapura. Pekerjaan ini juga saya lakukan secara jarak jauh.

Mungkin pada akhirnya banyak yang bertanya, mengapa belajar jadi content creator juga? Lalu, apakah pilihan karir yang sekarang sesuai dengan esai yang ditulis saat seleksi?

Mengapa menjadi content creator? Perkembangan internet di Indonesia mau tidak mau membuat internet menjadi sumber informasi bagi sebagian besar penduduk kota besar. Semua bisa diakses hanya dengan sentuhan jari. Saya pikir, untuk menebarkan nilai-nilai positif tidak lagi harus bekerja di institusi formal, tapi bisa juga melalui media online. Hal ini memang tidak tercantum dalam esai Career Plan saya. Namun tujuan akhir saya tidak berubah. Yaitu memberikan edukasi tentang kesadaran terhadap penjagaan lingkungan.

Di samping itu saya kini juga aktif dalam kegiatan masyarakat di desa saya yang saya pikir bisa jadi sarana efektif secara jangka panjang untuk memberikan edukasi terkait lingkungan secara langsung. Mulai dari PKK, dasa wisma, pengajian ibu-ibu, hingga TPA (Taman Pendidikan AlQuran). Meskipun masih anggota baru, tapi saya yakin akan ada jalan untuk bisa mengambil peran di sana.

Keterlibatan saya di masyarakat ini ssetelah saya refleksi kembali sangat sesuai dengan esai saya mengenai leadership and influence. Menurut saya, seorang yang bisa jadi pemimpin bukan hanya terbatas pada jabatan seorang ketua tapi juga bagaimana orang tersebut mampu menjadi pendorong dan penggerak kemajuan bagi komunitas di sekitarnya. Meskipun hanya sebatas level grassroot. 

Terkait pilihan bekerja jarak jauh, saya yakin bahwa pada suatu saat bekerja jarak jauh bukan menjadi hal yang aneh. Dan untuk bisa bekerja jarak jauh kita harus memili kemampuan yang outstanding agar bisa dipercaya.

Kalau dibanding alumni lainnya, mungkin bisa dibilang saya masih tidak ada apa-apanya. Tapi saya yakin bahwa setiap orang sudah punya porsi dan tugasnya masing-masing. Ada yang memang punya peran di sektor publik, dan sektor swasta dengan jabatan yang strategis. Namun ada pula yang tidak di keduanya seperti saya. Yang penting bagaimana kita tetap bisa memberi kebermanfaatn bagi orang sekitar. Karena nilai yang disuung Chevening adalah bagaimana bisa berkontribusi secara nyata terhadap perkembangan Indonesia.


pengalaman beasiswa chevening
Welcome Home Event
Chevening sendiri juga memiliki Chevening Alumni Network yaitu Chevening Connect yang menghubungkan seluruh alumni Chevening dari seluruh belahan negara. Untuk Indonesia, alumni Chevening tergabung dalam Chevening Alumni Association Indonesia.  Yang jelas, setelah lulus pun para alumni memiliki wadah untuk saling sapa hingga merencanakan acara untuk umum. Setiap tahunnya, bahkan terdapat grant program pemberdayaan masyarakat untuk para alumni yang mengirimkan proposal.

Ayoo, yang belum daftar Chevening, segera daftar ya! Beasiswa Chevening akan segera ditutup pada 6 November mendatang.

Sunday, 26 August 2018

Pengalaman Beasiswa Chevening (3); Menjadi Chevening Scholars diUniversity of Birmingham

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga pada tulisan ketiga tentang Chevening. Nah, kali ini saya akan sedikit membagikan pengalaman menjadi Chevening Scholars di University of Birmingham. Saya menganggap tulisan ini sebagai #throwback sekaligus melepas kerinduan saya akan Inggris. Diambil yang baik-baik saja ya.


Screenshot 2018-08-26 11.10.43
Email dari Program Officer

Sebelum berangkat ke Inggris, setiap Chevening Scholars telah memiliki Program Officer (PO) yang akan memandu segala macam teknis persiapan keberangkatan. Keberadaan PO menjadi semacam perwakilan Home Office UK bagi tiap scholars. PO memiliki peran yang besar untuk memastikan para scholars tidak 'terlantar' dan kesusahan ketika tiba di Inggris.


unnamed

Sebagai Chevening Scholars proses menuju keberangkatan bisa dibilang sangat lancar. Saya bahkan tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun untuk segala macam urusan teknis keberangkatan. Mulai dari visa hingga tiket pesawat. Semuanya gratis. Saya juga sudah dibekali dengan cash card yang berfungsi sebagai pengganti kartu debit dan telah berisi sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhan kita saat kedatangan di Inggris.

Singkat cerita, mendaratlah saya di Birmingham Airport. Ada rasa haru ketika mengantri untuk pengecekan imigrasi. Akhirnya, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di benua biru, Eropa. Alhamdulillah.

Hal pertama yang saya lakukan setelah berbenah di akomodasi adalah mengurus BRP (Bio Residence Permit) atau semacam KTP-nya Inggris di University of Birmingham. Segala macam urusan administrasi tahun ajaran baru dilaksanakan pada induction week atau semacam ospek. Termasuk bertemu dengan rekan-rekan sekelas dan para pengajar. Kalau ada yang belum tahu saya belajar apa di University of Birmingham, silahkan klik di sini untuk bacaan lengkapnya.


orientation 2016

Sekitar bulan Oktober, semua Chevening Scholars dari berbagai universitas di Inggris dikumpulkan jadi satu di ExCel London untuk mengikuti acara orientasi. Tidak hanya sebagai sarana berkumpul Chevening Scholars dari satu negara tapi juga sarana berkenalan dengan para PO dan Chevening Scholars dari negara lain. Acara orientasi adalah acara yang paling seru selama menjadi Chevening Scholars Dalam acara tersebut saya dan scholars lain benar-benar disambut sebagai duta dari negara asal kita. Kami mendapat sambutan khusus dari Boris Johnson dan spesial pesan video dari Prince of Wales, Pangeran Charles! Selain itu, kami banyak mendapat wejangan dari Lord Bilimoria dan Cassandra Stavrou yang sangat inspiratif. Coba Googling untuk tahu siapakah mereka berdua.


15003291_10154707411437422_253755590648424135_o
after party Chevening Orientation
Rasanya saya semakin semangat menghadapi setahun ke depan yang pastinya akan penuh perjuangan! Dan siap kembali ke tanah air untuk berkontribusi terhadap pembangunan Indonesia (meskipun sampai sekarang saya masih belum bisa berkontribusi apa-apa hehe)


HSBC

Karena saya adalah Chevening-HSBC Scholars, maka saya mendapat dua kali orientasi. Pertama orientasi bersama di ExCel London, kedua orientasi khusus dengan HSBC scholars lainnya di kantor pusat HSBC di London. Ada sekitar 30-an scholars yang tergabung dalam HSBC-Chevening Scholars. Lagi-lagi kami dijamu dengan sangat baik. Kalau biasanya acara formal di Inggris identik dengan makan cold sandwich tapi di sini kami makan makanan yang tergolong fancy, salah satunya yang saya ingat adalah UDANG! Kami juga mendapat kesempatan mengunjungi dan masuk ke dalam FCO (Foreign & Commonwealth Office) dan Westminster. Gratis!

Sebagai bagian dari Chevening Network saya mendapat newsletter melalui email sebulan sekali. Bukan sekedar newsletter biasa. Ini adalah newsletter yang selalu saya tunggu-tunggu. Selain banyak mendapatkan informasi dasar mengenai bagaimana menjalani kehidupan sebagai pelajar di Inggris, saya juga banyak mendapat informasi tentang beragam tempat-tempat menarik untuk dikunjungi sekaligus cerita sejarahnya. Yang unik, Chevening selalu mengadakan acara-acara yang menarik setiap bulannya. Mulai dari short trip ke tempat-tempat asyik di Inggris, seminar, diskusi, volunteering activities hingga Chevening Conference.

Sebagai Chevening Scholars saya merasa ada keseimbangan antara waktu studi dengan waktu rekreasi. Nampaknya work-life balance ini sudah menjadi kebiasaan orang-orang di Inggris. Sebagai contoh, hari Sabtu dan Minggu adalah hari keluarga dimana toko-toko akan tutup lebih awal. Saya perhatikan banyak orang menghabiskan Sabtu dan Minggu di rumah (karena jalanan mendadak sepi, bus dan kereta juga memiliki jadwal yang lebih longgar 30 hingga 60 menit sekali). Banyak juga yang bermain-main di taman atau park terdekat dari rumah mereka.


chevening

Selama menjadi Chevening Scholars, saya berkesempatan mengikuti lima kegiatan dari Chevening. Kenapa tidak mengikuti semua acaranya? Pertama karena jadwalnya tidak selalu pas dengan agenda kuliah. Kedua karena Chevening membatasi jumlah partisipan untuk setiap kegiatan agar semua scholars setidaknya pernah mengikuti satu acara atau kegiatan yang dilakukan oleh Chevening. Kegiatan pertama yang saya ikuti adalah Chevening Debate tentang 'Should responsibility for protecting the natural environment lie primarily with governments?', lalu mengunjungi Kielder Observatorium, Menjadi volunteer penanaman pohon di Marnham Fields, mengikuti Chevening Conference sebagai poster presenter, dan mengunjungi Nothern Ireland dengan Giant Causeway sebagai salah satu destinasi utamanya. Klik link masing-masing di atas untuk mengetahui lebih detail mengenai acaranya. Dari semua kegiatan tersebut favorit saya adalah Nothern Ireland. Tapi yang jelas semua kegiatannya selalu seru dan menyenangkan!


14435070_1129417660457318_2411698711308544236_o.jpg
PO berkunjung ke universitas
PO juga rutin melakukan kunjungan ke universitas dan menyediakan waktu untuk sekedar say hi hingga curhat mengenai kehidupan belajar yang sedang dijalani.


student life
No pain no gain
Namun tentu saja, dibalik suka cita perjalanan menjadi Chevening Scholars ada juga hal-hal menantang yang dihadapi selama studi. Mulai dari cuaca Inggris yang gloomy dan windy, jadwal kuliah dan tugas yang padat, menginap di perpustakaan untuk persiapan ujian, masuk angin hingga berjuang untuk membuat disertasi (di Inggris naskah thesis untuk S2 dikenal dengan nama disertasi) . Alhamdulillah, hal-hal menantang tersebut tidak malah membuat sedih tapi justru membuat rindu. Saya sendiri masih terharu jika ingat telah melewati ujian-ujian tersebut.


IMG-20170609-WA0020
Masak-masak bersama rekan-rekan Indonesia
Satu hal yang harus dipegang ketika menjalani studi di negeri orang adalah support system dengan rekan dari Indonesia. Hal ini bukan berarti akan membuat kita tidak bisa bergaul dengan teman dari negara lain. Bergaul dan bersosialisasi dengan rekan-rekan pelajar dari Inggris dan negara lain tetap perlu, namun support system dengan rekan dari Indonesia juga penting. Karena bagaimanapun, hanya rekan-rekan dari Indonesia lah yang bisa memahami kita seutuhnya. Contohnya adalah masak bersama makanan Indonesia, minta stok tolak angin atau pijat dan kerokan. :-D


chevening (1)
Caught some sunny spells in the UK with Besties!
Tambahan, sebagai orang introvert terkadang saya banyak menghabiskan waktu di Winterbourne (taman kampus) atau sekedar jogging dan jalan-jalan di taman dekat rumah akomodasi (Selly Park dan Cotteridge Park).

Satu tahun rasanya sangat cepat sekali berlalu. Ada rasa rindu untuk segera pulang ke Indonesia tapi ada pula rasa enggan melepas suasana kehidupan yang sudah ada. Terlanjur nyaman, katanya. Ah, tapi saya percaya Indonesia juga sudah berjalan ke arah yang lebih baik. Budaya cashless yang makin marak, transportasi publik yang makin mudah dan nyaman, kebutuhan pejalan kaki yang makin terakomodasi (setidaknya di pusat-pusat wisata), kesadaran lingkungan untuk memisahkan sampah dan masih banyak lagi yang lainnya.

PS: Saya termasuk orang yang senang jalan-jalan ketika di Inggris. Tidak hanya pergi ke tempat baru tapi saya juga banyak mendapatkan pengalaman interaksi dengan warga lokal dan pengalaman-pengalaman unik yang tidak akan bisa dilupakan. Nanti akan saya buat seri khusus untuk menceritakannya ya!

Sunday, 19 August 2018

My Dreamy Wedding Ceremony On A Budget (Bahasa)

Mohon maaf bila judulnya seperti menjebak. Tulisan ini menggunakan judul Bahasa Inggris namun dengan isi Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang digunakan pun cenderung tidak formal dan campur aduk dengan Bahasa Planet semata-mata agar terasa lebih ringan dan santai saat dibaca.

Tapi tenang saja, isinya bakalan sesuai dengan judul kok! Sebelumnya, coba angkat tangan siapa yang sedang merencanakan hari pernikahan bersama sang significant others (SO)-nya? Atau malah masi mencari-cari dimanakah sang SO berada? Di kondisi manapun kalian, tulisan ini tidak akan ada pengaruhnya untuk kalian. Lha terus ngapain nulis? Haha. Tulisan ini saya buat hanya sekedar untuk berbagi pengalaman saja. Tips dan trik yang saya beberkan nantinya mungkin tidak akan bisa berlaku untuk semua orang. Termasuk mungkin kamu, iya kamu. Tapi lagi-lagi, tidak ada salahnya untuk berbagi pengalaman kan?

green plant on clear glass vase 

Saya menikah di usia yang 'kata orang' dan mungkin 'kata netijen jaman now' termasuk telat karena sudah hampir menyentuh kepala tiga. But please anyone out there yang belum menikah dan sudah berumur melebihi seperempat abad tidak perlu berkecil hati. Menikah bukan lomba lari apalagi lomba balap karung. Menikah itu ibadah. Perlu persiapan mental yang matang. Jadi lemesin aja shay.. Stay cool and calm, the right one will come at the right time. Tsaahh...

Kenapa saya cerita soal usia menikah? Karena variabel umur sedikit banyak (jadi sedikit apa banyak?) mempengaruhi pola berpikir dan pengambilan keputusan termasuk soal perencanaan upacara pernikahan.

Saya dan pasangan sepakat untuk melakukan upacara pernikahan di rumah. Akad sekaligus resepsi dilaksanakan di rumah saya sebagai mempelai perempuan. Pernikahan impian saya adalah pernikahan yang on budget karena biar bisa nabung buat kehidupan ke depan :-p Namun saya juga menginginkan pernikahan yang intimate, sakral, sederhana namun elegan. Kira-kira seperti ini gambarannya.

Screenshot 2018-08-18 11.40.19Screenshot 2018-08-18 11.39.45

Tidak hentinya saya saved pin di pinterest. Sumpah gemas. Namun ternyata, setelah dicek ricek, item-item di atas mahal juga ya kalau harus pesan dari vendor luar. Tapi kalau dikerjain sendiri mana sempaaat.

Nah, sebelum melangkah lebih jauh. Kamu harus tahu bahwa untuk merencanakan sebuah upacara pernikahan, setidaknya ada 4 pihak utama yang akan bermain:
  1. kamu

  2. pasangan (calon suami/istri)

  3. keluargamu

  4. keluarga calon suami/istri

Kalau di Jawa, upacara pernikahan utama biasanya diselenggarakan oleh mempelai perempuan dengan sokongan dana dari pihak laki-laki. Dalam kasus saya, keluaraga suami menyerahkan sepenuhnya konsep acara ke pihak perempuan. Tentunya ini memudahkan langkah saya dalam merancang acara, karena berarti mengeliminasi satu faktor di atas. Suami sendiri juga nggak rewel. Yang penting sederhana dan syar'i. Nikah di KUA juga nggak masalah. Gitu katanya. Tapi saya dan Mamak meniatkan acara nikahan ini sebagai acara syukuran untuk tetangga, keluarga dan teman dekat.  Jadi, selain akad akan ada selebrasi kecil-kecilan di rumah.

writings in a planner 

Oke, jadi di sini praktis yang punya otak merencanakan upacara pernikahan adalah saya dan Mamak. MULAILAH SEGALA SESUATUNYA DENGAN BUDGET. Saya tidak punya banyak tabungan. Uang banyak dihamburkan untuk hedon. Haha. Stress release dalihnya. Saya berpikir kala itu kalau menikah itu ya uangnya harus ada di pihak laki-laki. But obivously it is totally wrong. Tolong jangan dicontoh! Mulai sekarang nabung sebanyak-banyaknya, bukan untuk acara nikahannya tapi after marriage life-nya!

Ok enough talking. Kalau budget tidak banyak ya tidak perlu acara yang aneh-aneh. Satu lagi, saya dan mamak berusaha TIDAK BERHUTANG. Intinya semampunya saja. Lanjut...

Jadi apa sih sebenarnya item-item di acara nikahan yang perlu di list dan disesuaikan dengan budget?

URUSAN ADMINISTRASI CATATAN SIPIL


Alur Pelayanan Nikah

Jangan sampai heboh nyiapin acara tapi lupa sama Pak Penghulu! Untuk nikah di rumah, kamu harus membayar uang sebesar 600,000 IDR via transfer bank. Kalau di KUA Gratis tis tis... Persiapkan dokumenmu dan pasangan mulai dari surat pengantar RT sampai akhirnya dapat panggilan dari KUA untuk wawancara dan penetapan waktu akad nikah.

KONSUMSI ACARA KHUSUSNYA TERKAIT ADAT DAERAH TEMPAT ACARA NIKAHAN


round white sauce plate 

Setidaknya di nikahan saya kemarin, ada empat jenis konsumsi yang harus disediakan. Pertama, konsumsi walimatul ursy atau walimahan. Walimahan biasanya dihadiri kerabat dekat dan tetangga. Setelah walimahan, para undangan akan makan makanan di tempat (1), dan membawa berkat* pulang (2). Lalu resepsi disediakan makanan dalam bentuk prasmanan atau buffet (3). Dan keempat, berkat untuk kerabat dekat (4).

*berkat: semacam kotak yang diisi nasi, lengkap dengan sayur, lauk, kerupuk dan buah. Biasanya untuk dibawa pulang saat acara selamatan dan nikahan. 

SEBENARNYA, hati kecil saya menolak. Konsumsi kok banyak amat. Budgetnya jadi paling besar di antara yang lain. Hampir 75% budget terpakai untuk konsumsi. Tapi mamak bilang, acara nikah tidak lepas dari adat suatu daerah. Kalau di kota saya, Bangil ya adatnya memang gitu. Kota kediaman saya di Bangil termasuk dalam tatanan sosial yang kekerabatannya cukup tinggi. Mau kamu nggak dibantu sama tetangga? . Begitu kata Mamak. Nah, poinnya sebenarnya bukan di konsumsi, tapiii ADAT APA yang berlaku di daerahmu? Hal wajib apa yang menjadi adat wajib acara nikahan di daerahmu? Kalau adatnya walimah tanpa konsumsi yaa jalankan.

UNDANGAN


dav 

Undangan saya sangat sederhana, seperti ini: yang penting ada nama mempelai, alamat dan waktu sudah tertera jelas. Kertasnya pakai kertas ivory macam sampul buku sidu, yang desain juga adek suami. Hehehe. Oiya undangan walimah dan resepsi dibedakan ya. Kalau undangan walimahnya malah undangan kertas fotokopi biasa. Haha, adatnya memang begitu. Alhamdulillah

Sebenarnya yang wajib tiga itu saja loh! Lainnya adalah pemanis dan pelengkap. Namun justru di bagian inilah kita sering kehilangan kontrol, di antaranya:

DEKORASI 

Termasuk kuade, tenda, tempat masukin uang dan tata letak

wedding (1) 

saya memilih meninggalkan kuade konvensional dan memilih kuade handmade kecil kayak kuade anak sunatan. Haha, whatever orang bilang. I'll do it with my way, toh itu adalah pilihan.Tinggal di Kota kecil seperti Bangil membuat pilihan saya ini susah dimengerti pihak vendor dekorasi yang rata-rata masih menggunakan kuade kayu zuper besar dan menghabiskan space dan dana yang bezaar jua.

wedding 2 

Meski sempat drama sama vendornya karena tidak menyerahkan desain yang saya minta sampai 8 jam sebelum acara. Tapi saya puas, akhirnya kuade kecil mungil itu bisa terpasang di halaman rumah. Meskipun jauuuh dari kuade impian saya, tapi at least masuk budget dan yaa acceptable lah.

RIAS DAN BAJU


wedding (2).jpg 

Saya kekeuh bikin baju sendiri. Karena tidak ada vendor di kota saya yang bisa menyediakan baju nikahan yang tidak press body dan nggak heboh. Namuuun, pastikan kamu menemukan penjahitnya dulu sebelum beli kainnya! Ini penting karena penjahitlah yang akan mentransformasikan kain menjadi baju. Saya sendiri ingin baju nikahan yang pada nantinya bisa dipakai untuk baju ke acara pesta. Berkonsultasi dengan penjahit juga akan membuat budget membuat baju lebih bisa ditekan. Ini yang tidak saya lakukan dan sempat berakhir drama, namun akhirnya terselesaikan oleh teman dekat yang jadi penjahit.Alhamdulillah. Rias ini juga ternyata mahal lhooo.... heuheu. Kalau saya 2 kali rias dihargai 2,500,000 IDR uwowo...awalnya saya shock, tapi ternyata harga segitu sudah cukup murah. Drama rias juga berlanjut karena nggak pingin pake bulmat sama konde punuk unta yang bikin gatell.  Beklah, nanti anakku nek nikah tak dandani wae. Fix, skill make up ternyata bisa menekan budget nikah!

Note that I didn't do henna, I didn't do any decoration for bride's room, I didn't do menicure pedicure. I just took a traditional spa for a bright, clean and healthy body.

SOUVENIR


wedding (3)

Nah, yang ini sebenarnya opsional. Budget per itemnya bisa menyesuaikan dengan jumlah total undangan. Saya mengundang kurang lebih 350 undangan. Maka saya ingin memberikan sesuatu yang spesial. Akhirnya terpikirlah totebag dua warna seperti di bawah ini. Harga per itemnya 5,000 IDR via tokopedia. Kalau bisa menemukan perajin lokal pasti bisa lebih murah.

BAJU SERAGAM untuk keluarga dan Panitia


seragam

Seragam full body hanya saya sediakan untuk keluarga inti saja. Itupun hanya Ibu mertua dan Mamak. Bapak mertua dan Adek hanya pakai baju putih dan jas saja. Untuk penunggu tamu dan panitia yang terdiri dari tetangga-tetangga dekat saya beri jilbab dan bros yang bisa berfungsi untuk corsace. Ahayy...

DOKUMENTASI

Awalnya saya mau minta tolong saudara yang juga fotografer pro, tapi udah keduluan di-booking yang lain, jadi minta tolong siapa aja yang mau bawa kamera haha.

Total jendral biaya yang saya keluarkan untuk acara plus pemanis dan pelengkapnya tidak lebih dari 20,000,000 IDR*. Alhamdulillah ala kulli hal.

Pasti di antara pembaca ada yang pro dan kontra. Apakah 20 juta ini bisa dianggap on budget? Lagi-lagi pedoman saya adalah intinya tidak berhutang dan acara sesuai dengan kehendak semua pihak yang terlibat. Ukuran on budget di sini memang sangat relatif. Tergantung bagaiman kamu dan pasangan memandang suatu acara pernikahan plus budget yang tersedia. Jangan diniatkan untuk gengsi ya shay. Bisa berbahaya untuk kesehatan pikiran dan badan ke depannya. Klik di sini untuk melihat detail budget di excel. Feel free buat tanya-tanya dan ubah excel-nya sesuai kebutuhan.

Saya sebenarnya yakin, dengan budget segitu bisa membuat pernikahan impian ala saved pin pinterest saya. Tapi karena waktu mepet dan kurang pengetahuan haha. Jadi bisanya cuma dapat yang ala kadarnya. Tapi Alhamdulillah semuanya masih dalam batas yang wajar, acceptable enough untuk bisa saya kategorikan sebagai pernikahan impian saya.

Semoga yang sedikit ini bisa membantu yaa. Pastilah nulis ini banyak kurangnya, Mohon dimaapkan. Kalau ada yang butuh contekan susunan acara dan susunan panitia bisa di klik di sini. Semuanya lengkap. Halal. Tinggal contek saja.

*attention: Budget di atas tidak termasuk seserahan, cincin, mahar dan cek premarital di laboratorium. Karena item tersebut sumbernya full dari suami. :-D

Sunday, 12 August 2018

Pengalaman Beasiswa Chevening (2); Seputar Aplikasi Dan Proses Seleksi

UPDATE: 5 Desember 2019
Dapatkan mentoring gratis beasiswa Chevening dari para alumninya. Cek caranya di akhir tulisan ya

Awalnya saya tidak ingin menulis mengenai aplikasi dan proses seleksi Chevening karena sudah cukup banyak teman-teman seangkatan saya yang menulis mengenai hal tersebut. Namun saya berpikir, 'hmm.. tapi tidak ada salahnya kan berbagi pengalaman'. Karena setiap orang pasti memiliki kesan dan cara pandang yang berbeda terhadap suatu kejadian. Maka saya pun coba untuk menuliskannya.

Jika kamu sudah mantap untuk mengajukan aplikasi beasiswa Chevening maka tulisan ini bisa kamu baca sampai tuntas, namun jika masih ragu-ragu, kamu boleh tengok kembali tulisan pertama saya tentang Chevening di sini.

Teknis pendaftaran dan jadwal seleksi beasiswa Chevening dapat kamu baca secara lengkap dan detail di laman resmi Chevening berikut ini. Saya tidak akan membahas teknis tersebut namun saya akan sedikit bercerita mengenai proses seleksi yang saya jalani ketika itu.


Bagaimana Awalnya?




Saya mendaftar Chevening saat saya bekerja sebagai pengajar di salah satu SMP swasta di Surabaya. Background saya adalah teknik sipil, tapi saya boleh dibilang terlanjur 'nyemplung' di dunia pendidikan. Ketika kuliah S1 saya mengambil konsentrasi hidrologi dan bisa dibilang saya 'jatuh cinta' dengan hidrologi. Dari hidrologi saya juga berkenalan dengan ilmu lingkungan, pengendalian banjir dan pengelolaan limbah. Dari sinilah saya berkeinginan jika suatu saat nanti bisa mempelajari dalam mengenai hidrologi dan lingkungan dan mengaplikasikannya dalam bidang pekerjaan saya. Apalagi sejak awal kuliah S1 cita-cita saya ingin sekali bisa menjadi dosen. Akhirnya saya pun bertekad untuk studi lanjut dengan sumber pendanaan beasiswa Chevening.


Pilihan Course



green leafed tree besides body of water during daytime

Saya sangat tertarik dengan course yang multidisiplin. Meskipun saya tahu course seperti itu tidak terlalu populer di Indonesia. Apalagi jika berencana menjadi dosen saya akan banyak terkendala dengan syarat linearitas yang sering disyaratkan dalam rekruitmen dosen. Tapi saya bandel! Menurut saya, untuk apa memaksakan diri mempelajari sesuatu yang tidak kita suka? Pilihan course saya pun jatuh kepada River Environments and Their Management University of Birmingham. Lebih lengkap mengenai course tersebut dan apa saja yang saya pelajari bisa kamu baca di sini


Saat Mendaftar Chevening



text on shelf

Saat mendaftar saya belum memiliki sertifikat kemampuan Bahasa Inggris apalagi Letter of Acceptance (LoA) dari universitas di UK. Saya berencana mengambil tes IELTS jika sudah dinyatakan lolos tahap seleksi administrasi oleh Chevening. Saat itu, surat referensi menjadi hal yang perlu disertakan pada tahap awal seleksi administrasi online. Saya menghubungi dosen pembimbing saya ketika S1 dan mantan manager saat di Pinnacle Education. Alhamdulillah keduanya memberikan dukungan dan bersedia dihubungi oleh tim seleksi Chevening jika diperlukan.

Tantangan lain saat mendaftar adalah menulis essay berdasarkan pertanyaan. Ada empat pertanyaan yang masing-masing harus dijawab dengan maksimal 500 kata. Pertanyaan yang diajukan merupakan perwakilan dari penilain substansial beasiswa Chevening, yaitu Leadersip & influence, Networking, Study Plan dan Career Plan.


person holding blue ballpoint pen writing in notebook

Nah, essay merupakan salah satu poin penting yang harus kamu perhatikan. Buatlah essay-mu dengan jujur, percaya diri dan dari hati. Jangan memaksa. Mintalah bantuan teman atau rekan yang berpengalaman untuk me-review essay yang kamu buat. Secara teknis saya mendapat banyak bantuan review essay saya oleh salah satu kolega di sekolah tempat saya bekerja, Pak Khusnul. Beliau pernah menjadi salah satu guru yang dikirim ke Amerika untuk studi banding. Saya percaya beliau adalah orang yang tepat untuk dimintai bantuan me-review.


Mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari University of Birmingham


Seiring dengan pendaftaran Chevening, saya pun mendaftar ke pilihan course saya untuk bisa mendapatkan LoA. Tiap universitas dan tiap course memiliki kebijakan yang berbeda terkait proses penerimaan mahasiswanya. Pastikan selalu merujuk ke situs resmi universitas terkait hal tersebut.

Untuk proses pendaftaran ke universitas, saya mengisi sebuah aplikasi online yang memuat data diri, essay dan referensi dari minimal dua orang. Untuk essay, saya diharuskan menulis mengenai alasan mengapa saya memilih pilihan studi tersebut. dan rencana karir setelah studi. Sedangkan untuk referensi, saya hanya diminta menyertakan kontak telepon dan email, untuk selanjutnya University of Birmingham yang akan menghubungi kontak yang kita berikan.


ballpen blur close up computer

Dalam kasus saya, aplikasi Chevening lebih sederhana dibandingkan dengan aplikasi universitas. Formulir isian aplikasi universitas lebih banyak. Saya butuh kurang lebih sekitar satu bulan untuk mengisi formulirnya secara lengkap. Dan lagi-lagi kamu boleh tidak menyertakan sertifikat IELTS pada saat pendaftaran. Nantinya jika lolos, kamu akan mendapatkan Conditional Offer sebelum di-upgrade menjadi Unconditional Offer jika telah menyerahkan bukti kemampuan Bahasa Inggris.

Meski Chevening memberi kita ruang maksimal tiga pilihan bidang studi di tiga universitas, saya saat itu hanya mendaftar di University of Birmingham saja. Karena pilihan studi yang saya inginkan hanya ada di sana.


Saatnya Menunggu



two men sitting in front of each other on white gang chairs in airport waiting area

selesai mengajukan aplikasi untuk Chevening dan universitas, maka saat-saat menunggu pun tiba. Aplikasi Chevening ditutup bulan November dan saya mendapatkan telepon dan email untuk interview sekitar bulan Januari-Februari tahun depannya. Sedangkan conditional offer saya dapatkan pada bulan Maret.

Dalam masa-masa menunggu saya mempersiapkan diri untuk mengambil tes IELTS. Saya sengaja tidak ambil les di luar karena selain karena masalah waktu dan kerja, saya merasa lebih optimal jika belajar sendiri. Saya banyak latihan soal-soal  IELTS, melihat video di YouTube mengenai tips dan trik IELTS, serta diskusi dan minta bantuan dengan teman yang IELTSnya bagus khususnya untuk sesi writing. Setelah capek seharian kerja, saya sempatkan menonton Gilmore Girls tanpa subtitle. Yeaahh... Hal tersebut ternyata sangat membantu dalam sesi listening.


Interview Chevening


Tenang, datang lebih awal, percaya diri dan jawab dengan jujur. Interview Chevening bisa dibilang sangat 'chill'. Bahkan saya sempat meminum air putih yang disuguhkan saat sesi wawancara. Jangan lupa senyum.


Setelah Itu...


Setelah interview saya serahkan semua hasilnya pada Allah. He knows what's best for me. Selain itu saya memutuskan untuk segera tes IELTS. Apapun hasilnya nanti, IELTS tetap penting untuk meng-upgrade conditional offer saya menjadi unconditional. Alhamdulillah kabar baik datang di bulan saya berulang tahun. Saya lolos Chevening 2016/2017! Tak tertahankan rasanya air mata saya. Saya langsung telfon Ibu di rumah sambil nangis sesenggukan.

Namun, saya masih harus menunggu hasil tes IELTS saya. Dag dig dug rasanya. Karena kalau nilainya di bawah 6.5 saya otomatis gagal mendapatkan chevening sekaligus gagal mendapatkan unconditional offer dari universitas.


Akhirnya...



Chevening Scholars 2016/2017
Chevening Scholars 2016/2017
Masya Allah, akhirnya penantian yang telah lama tiba juga pada akhirnya. Skor IELTS saya 6.5 yang artinya saya resmi lolos sebagai Chevening scholars sekaligus mendapatkan Letter of Acceptance dari universitas yang saya tuju.

Saya masih harus melengkapi beberapa persyaratan teknis ke universitas termasuk diantaranya mengirimkan translasi tersumpah ijazah dan transkrip nilai S1. Namun, rasanya lega sekaligus senang karena petualangan baru akan segera datang.


DSC_6685.JPG
University of Birmingham
Semoga cerita di atas bisa memberikan sedikit gambaran bagaimana proses saya melamar beasiswa Chevening. Selamat berjuang! 

Update: Kunjungi halama http://idcheveningalumni.com/mentoring-program/ Untuk mendapatkan mentoring aplikasi beasiswa Chevening, langsung dari para alumni. 

Sunday, 5 August 2018

Pengalaman Beasiswa Chevening (1); Darimana Harus Memulai?

Akhirnya, niat saya untuk menuliskan pengalaman beasiswa Chevening terealisasikan pagi ini. Sudah sejak lama ingin menuliskan mengenai detail aplikasi beasiswa Chevening namun selalu tertunda karena tekad dan niat yang kurang bulat. Niatan saya ini seolah diingatkan kembali oleh laman media sosial Kedutaan Besar Inggris di Indonesia (UK Embasssy) yang memuat pengumuman pembukaan aplikasi beasiswa Chevening pada 6 Agustus 2018 mendatang.

Rencananya, saya akan mencoba menuliskan pengalaman beasiswa Chevening dalam beberapa tulisan. Nah, tulisan yang pertama ini adalah mengenai hal-hal apa saja yang harus dicermati sebelum memulai proses pengajuan aplikasi beasiswa Chevening. Salah satunya adalah niat. Mengapa? Lalu bagaimana?


Mengapa Harus Inggris?



pengalaman beasiswa chevening
Sebagian anggota #CheveningBabes
Studi lanjut S2 merupakan batu loncatan yang penting untuk pengembangan karir dan kepribadian. Tidak hanya sekedar memperdalam keilmuan tapi juga mengasah ketajaman analisis dan pola berpikir.

Ada banyak negara dengan berbagai universitas yang menawarkan program studi S2. Bahkan di Indonesia sendiri sudah banyak institusi pendidikan yang membuka program pendidikan untuk S2. Lalu apa istimewanya menempuh pendidikan di Inggris?


1. Hanya Perlu Satu Tahun Untuk Studi Master (Master by Taught)

Di Inggris ada dua tipe jenjang studi S2, Master by Taught (PG Taught) dan Master by Research (MRes). Master by Research biasanya menjadi jembatan untuk yang ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi atau PhD. MRes ditempuh dalam waktu maksimal 2 tahun, sedangkan PG Taught termasuk di dalamnya MBA hanya perlu satu tahun saja.

Waktu pembelajaran yang lebih singkat ini tentunya menjadi daya tarik utama bagi para professional yang ingin memperdalam keilmuan sekaligus mengembangkan karir di bidangnya. Proses pembelajaran pun berlangsung lebih efektif dan efisien tanpa menghilangkan esensi pendidikannya.


2. Banyak Universitas di Inggris yang Menduduki 100 Besar Ranking Universitas Dunia




Radcliffe Camera Oxford
Sudah bukan rahasia lagi jika institusi pendidikan di Inggris merupakan yang tertua dan terbaik di dunia. Terbukti dari 12 universitas di Inggris konsisten masuk dalam 100 besar ranking universitas di dunia. Di antaranya yaitu, University of Oxford, University of Cambridge, Imperial College London, University College London, London School of Economics and Political Science, University of Edinburgh, King's College London, University of Manchester, Durham University, University of Warwick, London Business School, dan University of Bristol.

Jika masih bingung menentukan pilihan universitas tujuan, baca tulisan teman saya, Teh Feli (Felicia Lesmana) di sini


3. Pengalaman Melihat Belahan Bumi Yang lain, Belajar Budaya dan Menyerap Kebaikan Dari Masyarakat Inggris




photo of group of people standing in front of building
Photo by Skitterphoto on Pexels.com
Inggris merupakan salah satu negara di benua biru yang multikultur. Berbagai macam ras suku bangsa ada di sana. Hal ini tentunya mengajarkan betapa budaya masyarakat Inggris yang sangat menjunjung tinggi nilai toleransi. Kata maaf dan terima kasih bukan menjadi hal yang aneh untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari.

Contohnya, saat belanja ke supermarket dan membuka pintunya, masyarakat Inggris terbiasa untuk mengecek ke belakangnya apakah akan ada orang yang akan masuk setelah mereka. Jika iya, maka mereka tidak segan untuk menahan pintu dan mempersilakan orang tersebut untuk masuk. Meski tidak kenal sekalipun :)


three white windmills on green field under blue sky
Photo by Lisa Baker on Pexels.com
Kondisi alam dan geografis Inggris juga akan banyak memberikan kita pengalaman yang unik. Salah satu di antaranya adalah pengalaman puasa selama 19 jam yang ditulis oleh teman saya Nurul Cuex di sini


Mengapa Harus Chevening?




pengalaman beasiswa chevening
Chevening Scholar Orientation 2016 di London
Jika kamu berencana melanjutkan studi untuk jenjang master (S2) ke Inggris maka Chevening bisa jadi sarana yang tepat untuk mewujudkan rencanamu. Perlu diperhatikan, Chevening hanya memberikan pembiayaan untuk studi S2, bukan S1 atau S3. Dan kamu juga sudah harus memiliki pengalaman kerja setidaknya 2 tahun. Klik di sini untuk membaca cerita dari teman satu angkatan Chevening saya, Alanda Kariza terkait pengalamannya memilih beasiswa Chevening.

Chevening adalah salah satu skema beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Inggris untuk program studi master (S2) di Inggris bagi para professional di banyak negara khususnya negara yang sedang berkembang, salah satunya Indonesia. Telah dimulai sejak tahun 1983 beasiswa Chevening didanai oleh Foreign and Commonwealth Office serta beberapa sponsors di antaranya CIMB Niaga, HSBC, dan Prudential.


pengalaman beasiswa chevening
University Of Birmingham Chevening Scholars on a Sunny Day :)
Karena sifatnya yang global, maka Chevening menjadi jembatan bagi banyak generasi muda di berbagai negara untuk bisa terhubung dan berkumpul dalam satu wadah. Bisa bertemu dan bertukar pikiran dengan para pemuda dari negara lain tentunya bisa jadi pengalaman yang berharga. Lebih lanjut mengenai cerita menjalani kehidupan sebagai pelajar di Inggris dengan beasiswa Chevening akan saya coba tuliskan pada kesempatan yang lain. Sementara itu, kamu bisa membaca di sini untuk mengetahui kegiatan terkini para penerima beasiswa Chevening di Inggris.


pengalaman beasiswa chevening
pengalaman menjadi sukarelawan

Bagaimana Caranya?



pengalaman beasiswa chevening
Chevening Orientation 2016
Secara umum ada tiga tahap dalam proses seleksi beasiswa Chevening. Yang pertama, seleksi administrasi melalui aplikasi online di www.chevening.org/apply. Kedua, seleksi wawancara apabila terpilih. Ketiga, melengkapi syarat administrasi termasuk surat referensi, sertifikat kemampuan bahasa Inggris, dan bukti penerimaan di kampus yang dituju.

Artinya, pengajuan aplikasi Chevening dan universitas tujuan dilakukan pada dua proses yang berbeda. Baca di sini untuk pengalaman saya melamar studi S2 di University of Birmingham.

Pengisian aplikasi online juga tidak rumit. Isinya seputar pengalaman studi, kerja, organisasi atau kegiatan sukarelawan. Lalu menjawab beberapa pertanyaan terkait motivasi dan rencana setelah penyelesaian studi. Beberapa teman saya telah menuliskan secara khusus mengenai persiapan sekaligus tips dan trik aplikasi beasiswa Chevening. Klik link di bawah ini untuk membaca cerita lengkapnya.
1. Pratiwi Hamdhana
2. Nurul Chusna
3. Felicia Lesamana
4. Nanak Hikmatullah

Baca lebih lanjut di Website Chevening untuk mengetahui secara lengkap memuat panduan pengisian aplikasi online hingga jadwal proses seleksi beasiswa Chevening.


Niat




pengalaman beasiswa Chevening
Indonesian Chevening Scholar
Sebelum tulisan seri pertama saya tentang pengalaman beasiswa Chevening ini saya akhiri, saya ingin sedikit merefleksikan diri saya ketika akan melamar beasiswa Chevening. Selama proses menulis aplikasi, saya selalu berpikir, apa keistimewaan saya dibanding dengan ribuan pemuda berprestasi lainnya di luar sana? Apa niat saya untuk studi S2? Apa niat saya memilih Chevening di antara beasiswa-beasiswa lainnya? Ya, niat. Niat adalah fondasi penting yang harus kita kuatkan sebelum menjalankan suatu aktivitas termasuk dalam memilih dan memantapkan diri untuk mengajukan aplikasi beasiswa. Jangan sampai hanya sekedar ikut-ikutan trend sekolah di luar negeri atau niatan-niatan lain yang tidak pada tempatnya.

Selamat memantapkan diri!

PS: Terimakasih sudah mau membaca. Doakan semoga saya diberi kelancaran menulis sehingga bisa banyak berbagi di blog ini.