q

Saturday, 24 December 2016

Belajar Apa di University of Birmingham?

Menyambung tulisan sebelumnya, kali ini saya akan berbagi cerita dan kesan-kesan menimba ilmu di Inggris. Course yang saya ambil untuk S2 saat ini adalah River Enviornments and their Management atau disingkat REM. Dari namanya, sudah sangat terlihat kalau saya akan belajar segala hal mengenai sungai. Course saya bisa dibilang sangat tematik karena mengangkat sungai sebagai topik utama, kemudian dijabarkan berdasarkan cabang-cabang keilmuan terkait terkait manajemen sungai, mulai dari ekologi, geomorfologi dan hidrologi.

Sejak kuliah strata satu saya sangat tertarik dengan subjek keairan. Tidak banyak orang yang tahu kalau teknik sipil sebenarnya gabungan dari tiga tema besar infrastruktur; gedung, transportasi dan keairan. Di negara berkembang seperti Indonesia, manajemen sungai sebagai salah satu smber daya air masih berkutat seputar optimalisasi pengaturan irigasi dan penanggulangan banjir melalui pembangunan sudetan atau normalisasi. Padahal kalau melihat fungsi asalnya, sungai di Indnonesia memiliki potensi besar untuk bisa memberi manfaat bagi masyarakat banyak, tidak hanya sekedar irigasi, tpi juga persediaan air minum, perikanan, pencegah banjir dan sarana rekreasi dan navigasi. Berkaca pada masa sebelum renaisans, peradaban maju selalu berada di tepian sungai, maka sungai semestinya menjadi asset penting untuk kehidupan makhluk hidup. Hal inilah yang kemdian mendasari saya untuk mempelajari lebih dalam terkait sungai.

dsc_0315
BiFOR Institute
 University of Birmingham (UoB) sendiri tahun 2016 dinobatkan oleh Sunday Times sebagai university of the year for graduate employment. Saat induction week kami pun sudah dikenalkan dengan berbagai macam perusahaan dan mitra dari UoB yang menawarkan kesempatan magang maupun kerja penuh waktu. Universiti juga memfasilitasi bimbingan karir sejak awal pertama masuk ke lingkungan awal kampus. Catat ya, sejak awal masuk kampus. Ada beberapa kelas mini dan diskusi tentang future career dan juga pelatihan-pelatihan untuk mengasah softskill dan bagaimana membuat CV kita stand out. Saya pernah mengikuti kelas penulisan CV dan sangat menarik dan aplikatif karena dipandu langsung oleh lulusan UoB yang sudah berkarir di perusahaan ternama. Pihak kampus juga mengirimkan newsletter elektronik bulanan yang berisi kesempatan kerja, magang maupun volunteering sesuai dengan latar belakang pendidikan dan jurusan yang sedang kita ambil. Jadi bukan blast email yang harus kita saring sendiri, melainkan email yang isinya sudah pasti 90% sesuai dengan prediksi karir kita ke depan.

dsc_0331
Dr David Boorman CEH explaining SOIL COSMOS UK in measuring soil moisture real time

dsc_0340
Colin Roberts & Dr Cedric Laize showed the use of new technology for river discharge measurement (ADCP)
 Course yang saya ambil tidak menyediakan modul pilihan, semua modul wajib diambil. Total terdapat 12 modul termasuk disertasi atau tugas akhir. Di semester pertama ini, total ada 6 modul yang harus saya selesaikan. Karena hanya ada lima hari kuliah selama seminggu maka praktis saya kuliah tiap hari. Hehehe. GAP lima tahun dari lulus strata satu ke program magister cukup membuat saya terengah-engah terutama dalam hal membaca dan menyarikan literatur, apalagi harus melakukan critical review. Plagiarism juga menjadi hal yang sangat penting karena kita tidak bisa begitu saja menyadur kalimat atau hasil kerja dari suatu jurnal maupun buku. Sistem pendidikan di UK sangat menekankan pentingnya memahami suatu topik secara menyeluruh. Membandingkan grand theory dengan aplikasi dan penelitian-penelitian terkait menjadi dasar penting untuk bisa menemukan research gap. Research gap ini lah yang kemudian akan digunakan sebagai dasar penyelesaian masalah. Tidak heran, jika negara maju mampu menyelesaiakn masalah yang ada di negaranya secara efisien, karena setiap penyelesaian masalahnya berdasarkan riset bukan sekedar asumsi. Berdasarkan kriteria inilah setiap modul selalu mempunyai paling tidak satu coursework atau tugas yang bisa merupakan mini research ataupun literature dan critical review. Untuk course saya sendiri sangat bervariasi, mulai dari project report, design proposal, presentasi dan critical review.

Sejauh ini saya merasakan pengalaman yang sangat menyenangkan menjalani course. Menyenangkan bukan berarti santai ya. Selain harus beradaptasi dengan reading list yang sangat banyak, saya juga harus berjuang melawan mood yang sering turun karena cuaca yang gloomy. Pilihan course sangat penting untuk kita bisa tetap enjoy dalam menjalani perkuliahan. Jangan sampai salah pilih course dan menyesal karena merasa bukan bidang yang diinginkan. Para pengajar sangat membantu dalam proses memahami suatu materi. Proses komunikasi dengan para pengajar bisa sangat mudah dilakukan melalui email. Setiap mahasiswa juga memiliki personal tutor yang akan membantu dan memantau perkembangan kita secara akademis. Saya merasa sangat terbantu dengan hal ini, sehingga proses adaptasi pun bisa berjalan dengan cepat.

Berbicara spesifik terkait REM. Course ini bisa dibilang sangat practical. Pembelajaran tidak hanya dilakukan di kelas dengan model konvensional dimana dosen akan mengajar selama 2 jam dan mahasiswanya akan terkantuk kantuk hehehe. Setiap metode pembelajaran dalam modul dirancang sedemikian rupa agar mahasiwa mudah menyerap ilmu yang disampaikan. Sebagai contoh, pada semester ini, saya mendapat modul river assessment and monitoring. Kami pun melakukan praktik secara langsung meng-assess sungai Bourn brook di Birmingham menggunakan metode yang digunakan oleh Environment Agency UK dan melakukan analisa terhadap hasil yang didapat. Analisa ini dituangakn dalam sebuah report project dan harus memuat Analisa secara spesifik terhadap satu aspek terkait sungai tersebut, bisa dari sisi aspek habitat sungai (river habitat) ataupun kualitas air (water quality). Pada kesempatan lain, kami juga mengunjungi CEH (Centre for Ecology and Hydrology) yang merupakan lembaga penyedia data untuk ekologi dan hidrologi di UK. Data inilah yang kemudian akan menjadi rujukan bagi environment agency dalam pengambilan keputusn dan perumusan kebijakan. Kami belajar mengenai berbagai macam tipe alat pengukuran hydrometeorology dan mekanisme pengumpulan serta validasi data. Sangat sangat menarik. Tempat lain yang kami kunjungi adalah BiFOR, dimana kami melakukan praktek pengukuran terhadap aspek hidrologi dan hidraulika sungai. BiFOR bertempat di lahan hibah yang diberikan kepada UoB yang kemudian diolah menjadi situs riset untuk pengukuran karbondioksida. Situs riset yang menurut saya sangat sophisticated. Yang tertarik dengan BiFOR bisa mengunjungi website berikut ini  http://www.birmingham.ac.uk/research/activity/bifor/index.aspx

Semester depan, saya sangat tidak sabar memulai project untuk modul river restoration dimana dalam project ini saya berada dalam tim yang berlaku sebagai konsultan dan akan menangani proyek dari klien terkait restorasi sungai. Kami akan berkolaborasi dengan konsultan WS Parsons Brinckerhoff sebagai penyedia data dan pembimbing dan di bawah arahan Prof Alexander Milner.

Hal menarik lain yang saya temukan tentang UK terkait dengan course saya adalah UK memiliki river restoration centre. Dari namanya saja sudah sangat jelas bahwa lembaga tersebut menangani restorasi sungai di UK. Restorasi sungai di UK sangat focus pada pengembalian fungsi sungai kepada kondisi aslinya tahap modifikasi.  Sangat menarik melihat bagaimana resiko banjir dapat dikurangi dengan cara mengembalikan sungai kepada kondisi asalnya. Anyway, yang tertarik melihat lebih lanjut course saya bisa klik lilnk berikut ini

http://www.birmingham.ac.uk/postgraduate/courses/taught/gees/river-environ-mgt.aspx#CourseOverviewTab

Klik di sini untuk mengajukan pertanyaan lanjutan seputar studi di University of Birmingham.

Happy holiday!

Sunday, 11 December 2016

Catatan Dua Bulan di Britania Raya

Akhirnya, setelah berkutat dengan assignments keluar juga tulisan pertama dari Birmingham. Kalau dibanding dengan teman-teman lain, tulisan saya ini bsia dibilang terlambat. Tapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?

Sudah lewat dari dua bulan saya menginjakkan kaki di bumi Britania Raya. Tempat dimana lahir revolusi industri yang mengubah sejarah dunia. Perjalanan saya ke Britania raya ini juga adalah kepergian saya pertama kali ke luar negeri. Katrok banget ya? Ke Singapur aja kagak pernah hehehe. Berada di atas awan dan duduk dalam ruang pesawat yang fancy tidak pernah tergambar dalam benak saya. Mimpi saya, saya ingin menuntut ilmu di luar negeri. Sejak kuliah, saya sangat sangat ingin sekali merasakan bagaimana rasanya berada dan belajar di belahan dunia yang lain, melihat kekuasaanNya dari sisi yang jarang dilihat. Namun, rupanya Allah menunda terlebih dahulu mimpi saya sampai akhirnya setelah kurang lebih lima tahun bekerja, saya mendapat kesampatan untuk bersekolah di Britania Raya dengan besiswa Chevening-HSBC. Proses seleksi chevening akan saya tulis pada cerita yang terpisah ya.

14876670_545496048980152_6062078631307972799_o

Berada ribuan kilometer dari kampung halaman tentunya menjadi hal yang sanagt menantang, mendebarkan sekaligus tidak mudah. Di sini, semua serba otomatis dan self-service. Kedekatan dengan orang-orang dari Indonesia menjadi sangat penting sebagai supporting system. Bukan berate kemudian tidak mingle dengan teman-teman dari negara lain, tapi ada beberapa hal yang hanya bisa dipahami oleh rekan dari Indonesia, contohnya KEROKAN!!! Yess, setelah beberapa bulan bertahan dengan dinginnya cuaca, menyerah juga saya tadi malam kerokan. LOL. Awal kedatangan, saya masih disambut matahari meskipun angin sudah mulai kencang. Memasuki bulan Desember, matahari semakin jarang muncul, waktu siang juga menjadi sangat pendek. Menjaga kesehatan dengan makanan yang bernutrisi dan olahraga menjadi kunci penting untuk bisa bersahabat dengan iklim yang sangat jauh berbeda dengan negara tropis.



Meskipun begitu, Alhamdulillah tidak henti-hentinya bersyukur atas apa yang sudah Allah berikan. Sudah dua bulan lebih berada di bumi Britania, melihat kekuasaanNya dari sisi yang lain. Semoga bisa memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik-baiknya. Sebanyak mungkin mengumpulkan bekal ilmu untuk dibawa dan diamalkan di tanah bumi pertiwi. Semoga Allah mengizinkan. Saya selalu ingat yang dikatakan Ummi dan Abi ketika pagi-pagi buta setelah subuh melihat santrinya terkantuk-kantuk di kelas. Intinya, jika kita berniat dan bersungguh- sungguh menuntut ilmu maka ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara akan senantiasa mendoakan kita. Masha Allah. Berikut ini redaksi aslinya,
Imam Tarmizi meriwayatkan bahwa Abu Umamah Al Bahil telah berkata : Bahwasannya Rasulullah bersabda :
“Kelebihan orang alim (ulama) atas ahli ibadat adalah seperti kelebihanku ke atas orang yang paling rendah di antara kamu”. Kemudian Bagianda bersabda lagi: “sesungguhnya para malaikat dan penduduk langit dan bumi hinggakan semut dalam lubangnya berserta ikan berselawat (berdoa) untuk orang-orang yang mengajar kebaikan kepada manusia.” (HR Imam Tarmizi)

Tulisan ini menjadi tulisan pembuka catataan-catatan slelanjutnya. Insya Allah tulisan sleanjutnya akan membahas tentang Chevening dan course yang saya ambil di University of Birmingham. Sampai jumpa !

Friday, 10 June 2016

Review: Supernova Inteligensi Embun Pagi

Berdasarkan memo direksi per tanggal 20 Mei, pengajuan tagihan maksimal diterima tanggal 3 Juni dan akan dibuka kembali per tanggal 12 Juli. Sekian. Memo ini sekaligus menjadi penanda untuk saya bahwa kerjaan di bulan Ramadhan tidak akan sepadat bulan biasa. Alhamdulillah, setelah hampir tiga tahun di Surabaya nggak pernah rutin tarawih di masjid (pengakuan dosa), akhirnya bulan ini semoga bisa tercapai semua targetan-targetan ibadah dan bisa jadi orang yang lebih baik lagi. Aaamiin. Nah, tapi ada sedikit kerugiannya juga nih, bukan kerugian sih sebenarnya tapi peluang untuk jadi rugi, yaitu waktu di kantor jadi lebih banyak selo nya. Ada rasa bersalah karena menerima gaji utuh tapi pekerjaan tidak terlalu banyak. Adakah yang mengalami hal yang sama? Karena selo, dan lelah karena practice writing ielts berkepanjangan, hehe, maka saya sempatkan saja untuk menulis review tentang novel edisi terakhir dari serial supernova nya ibu suri alias Dewi Lestari.

Saya mengenal novel supernova di bangku SMA, dimana pada saat itu sudah terbit tiga seri supernova, yaitu Kesatria, Puteri dan Bintang Jatuh (KPBJ), Akar dan Petir. Saya pun tidak membaca secara urut, mengingat keterbatasan bukunya di perpustakaan kecamatan dan supernova sendiri termasuk judul buku yang sering dipinjam. Mendengar nama serialnya saja sudah cukup aneh, apalagi penulisnya yang saya tahu adalah seorang penyanyi. Sebelum mereview lebih dalam seri Intelegensi Embun Pagi, ijinkan saya bernostalgia sedikit mengenai beberapa karakter dan alur cerita pada buku supernova seri sebelumnya.

Reuben dan Dhimas mengawali kisah cerita supernova sebagai pasangan gay yang terobsesi membuat sebuah karya novel yang menggunakan acuan fakta empiris dan teori saintifik. Perjalanan mereka menuliskan novel kemudian menjadi sebuah perjalanan fantasi semi supranatural yang mencengangkan keduanya karena mereka bertemu dengan tokoh-tokoh yang mereka ciptakan di dunia nyata. Adalah Gio, Diva, Rana, Arwin dan Ferre tokoh-tokoh di dunia nyata sekaligus berada di alam fiksi Dhimas dan Reuben. Dewi Lestari menceritakan dengan sangat substansial setiap karakter dan hubungannya antara satu dengan yang lain. Alur cerita dikisahkan seolah-olah terpisah antara cinta segitiga Rana,Arwin dan Ferre dengan hubungan antara Gio dan Diva. KPBJ ditutup dengan menghilangnya Diva dan awal petualangan Gio mencari Diva di dataran Amerika Selatan. Supernova KPBJ membawa aliran novel baru sains-fiksi di Indonesia dengan sentuhan spiritual. Saya membayangkan bahwa suatu nilai spiritual akan bisa dibuktikan melalui teori saintifik di novel ini.

Buku kedua; Akar sama sekali tidak mengisahkan tokoh-tokoh yang ada di KPBJ. Ceritanya sama sekali berbeda. Jadi itulah mengapa tetap bisa nyambung meskipun baca serinya tidak berurutan. Tokoh utama pada seri akar adalah Bodhi yang hidupnya ibarat penjelajahan liar dalam kesendirian. Bodhi bertemu dengan Bong yang kemudian menjadi sahabatnya ketika di indonesia. Ada juga tokoh Kell yang merupakan guru tattoo artist Bodhi. Seri ini merupakan seri favorit saya, karena petualangan Bodhi di dalamnya sangat tidak mudah diprediksi. Mulai dari tattoo, ganja, sampai pertemuannya dengan wanita cantik bernama Star.

Buku ketiga; petir menceritakan elektra yang belakangan diketahui memiliki kemampuan magis menyembuhkan penyakit dengan kemampuan elektriknya. Latar belakang Bandung tahun 2000an sangat pas sekali menceritakan bagaimana elektra kemudian membangun warnet bernama elektra pop. Pada seri inilah elektra alias etra bertemu dengan Bodhi. Benang merah seri pertama dan kedua mulai terlihat. Rasa penasaran menanti-nanti kedatangan seri supernova berikutnya. Namun ternyata supernova harus vakum selama 8 tahun setelah seri ketiga Petir di tahun 2004.

Seri berikutnya Partikel lahir di tahun 2012. Pada seri ini jujur saya mulai agak bingung dengan setting dan time frame yang diterapkan. Mungkin karena jetlag ya 8 tahun gitu hehe. Dari segi tutur cerita saya juga merasakan adanya perbedaan dengan seri supernova sebelum masa vakumnya. Seri partikel ini menurut saya 'lebih' ringan dari sebelumnya. Meskipun tetap disajikan dengan menarik dan memberikan pandangan baru terhadap mitologi-mitologi portal waktu dan alam makhluk lain melaui tokoh utama bernama Zarah. Dewi Lestari tetap berhasil memberikan sentuhan saintifik yang menarik. Dari seri ini saya menyadari pola yang berulang dimana setiap seri akan fokus menceritakan tentang seseorang yang memiliki kemampuan 'spesial'. Pada seri ini, keterkaitan dengan KPBJ belum jelas terlihat.

Seri Gelombang adalah seri kelima yang lahir kurang lebih 2 tahun setelah pendahulunya. Pada seri ini kita dikenalkan dengan tokoh Alfa dan permasalahan terkait tidurnya. Sampai pada seri ini saya benar-benar merasakan ada sedikit perubahan dalam plot yang dibangun Dewi Lestari. Mitos yang dibangun tidak lagi atau mungkin tidak terlalu banyak melibatkan aspek ilmiah. Gaya bahasa kalau saya boleh berpendapat lebih terkesan 'ringan' dan banyak menggunakan tata bahasa yang tidak baku (lebih mengandalkan percakapan untuk menguraikan jalan cerita). Sehingga kadang saya merasa ada distorsi waktu dari seri 1,2,3 ke 4,5,6. Pada seri ini muncullah istilah peertas, inflitran dan sarvarra yang membuat saya harus berpikir keras untuk mencerna kembali alur cerita supernova yang sudah terbangun di kepala. Kemunculan Gio pada seri ini tidak serta merta membuat alur cerita menjadi jelas. Pada seri ini saya sudah mulai kehilangan pemikiran-pemikiran liar Dewi Lestrai tentang korelasi sains dan mitologi serta nilai sinkronisitas yang pada mulanya menjadi tema utama serial Supernova.

Tibalah akhirnya pada seri Intelegensi Embun Pagi (IEP). Seri terakhir Supernova. Dengan rasa penasaran yang sangat mendalam saya babat habis IEP dalam waktu 3 hari. Secara keseluruhan, saya cukup terkejut dengan hasil akhirnya. Di luar ekspektasi saya mengharapkan jawaban atas segala keterkaitan dari seri satu hingga kelima, namun yang saya dapatkan hanyalah sebuah pertempuran antara sang baik dan si jahat didampingi makhluk immortal pendamping bernama infiltran. Secara gammblang Dewi Lestari ingin memasukkan konsep reinkarnasi sebagai sebuah pertarungan abadi. Dengan selipan roman Alfa dan Ishtar, IEP sepertinya terlalu sayang jika berakhir menjadi semacam novel pertarungan ala superhero. Saya menduga, ada perubahan alur yang sengaja dilakukan oleh Dewi Lestari. Delapan tahun vakum dari seri Petir menuju Partikel bukanlah waktu yang singkat. Saya yakin banyak pemikiran berlalu lalang di pikiran Dewi Lestari sehingga menyebabkan alur cerita menjadi berkembang sedemikian hingga. Pada awalnya saya mengharapkan Reuben dan Dhimas menempati posisi yang krusial dalam seri Supernova dengan balutan perang pemikiran yang melibatkan teori-teori saintifik ilmiah dan mitologi-mitologi populer. Namun jalan cerita dan akhir cerita menjadi sepenuhnya hak priogratif penulis.
Ending IEP juga tidak sepenuhnya bisa disebut ending. Sangat besar akan kemunculan prekuel Supernova di kemudian hari.

Pada akhirnya saya mengucapakan selamat untuk Ibu Suri, Dewi Lestari, sudah melahirkan karya seri bernama Supernova yang menurut saya memberikan inspirasi baru terhadap karya sastra Indonesia (sok nyastra! hihi).

Demikian sedikit review saya sebagai pembaca awam yang sok-sok nyastra. Mohon maaf jika tidak mengikuti kaidah penulisan resensi Bahasa Indonesia yang baik dan benar. :-)